rintik-mu menumpuk di kepala
setelah reda
di dada masih saja kecipak rindu-mu
yang mengganggu
Jakal, 2007.
Minggu, 16 Maret 2008
Re-inkarnasi malam
pada re-inkarnasi malam yang tabah
di wajah-nya penuh lebam
sudah cukup ku-kenali ia
lewat cahaya bulan-nya yang redup
sayup-sayup menerpa tubuh
pada re-inkarnasi malam yang tabah
aku tak ingin goreskan lagi itu luka!
Jogja, 2007.
di wajah-nya penuh lebam
sudah cukup ku-kenali ia
lewat cahaya bulan-nya yang redup
sayup-sayup menerpa tubuh
pada re-inkarnasi malam yang tabah
aku tak ingin goreskan lagi itu luka!
Jogja, 2007.
Malam, Warung Kopi
malam telah mati di sini
bulan pun khianat
sesaat saja cahaya-nya nyelinap
di antara gerimis bau amis
membasahi tanah yang penuh sayat luka
sementara di sana, di ujung meja
orang-rang asyik saja menertawakan duka
bosan aku, dan ku-tenggelamkan saja diri
pada kopi yang masih tersisa
biar tak ada yang tahu siapa yang terluka
Jogja, 2007.
bulan pun khianat
sesaat saja cahaya-nya nyelinap
di antara gerimis bau amis
membasahi tanah yang penuh sayat luka
sementara di sana, di ujung meja
orang-rang asyik saja menertawakan duka
bosan aku, dan ku-tenggelamkan saja diri
pada kopi yang masih tersisa
biar tak ada yang tahu siapa yang terluka
Jogja, 2007.
Sajak Perpisahan
di teras itu
ketika ku-peluk kau
mendung selimuti wajah kita
tapi aku harus berlalu
larut dalam do’a-mu
ibu
Jogja, 2006.
ketika ku-peluk kau
mendung selimuti wajah kita
tapi aku harus berlalu
larut dalam do’a-mu
ibu
Jogja, 2006.
Orkestrasi Alam
nang ning nong ning nong nang
nong nang ning ning ning
melodi kematian ini-kah!
sunyi yang selama ini terpendam
bungkam
kini orkestrasi itu di-nyanyikan
di pentaskan gunung-gunung
bukit-bukit
lembah-lembah
sungai-sungai
dasar lautan hingga awang-awang
apakah irama kehidupan sudah tak seromantis dulu lagi
saat daun-daun berguguran, angin menutup mata
dan lambaikan tangan-nya
di bibir kita terkoyak senyuman, ketika dalam
dekapan kekasih
tapi apa yang terjadi kini, nyanyian alam jadi
tembang kematian!
siapa yang menangis?
siapa yang terluka?
siapa yang kehilangan?
alam saudara tua yang terluka
yang tak bisa lagi menahan amarah, karena selalu
terjarah!
daun-daun tak lagi sempat
untuk sekedar mengucap salam;
pada ranting-ranting patah
pada dahan-dahan rengkah
pohon-pohon dipaksa mati muda
hutan dirampas keperawanan-nya
apa ada yang dengar rintih-nya!
kini, nyanyian alam rintihan siapa?
Jogja, Des’2006.
nong nang ning ning ning
melodi kematian ini-kah!
sunyi yang selama ini terpendam
bungkam
kini orkestrasi itu di-nyanyikan
di pentaskan gunung-gunung
bukit-bukit
lembah-lembah
sungai-sungai
dasar lautan hingga awang-awang
apakah irama kehidupan sudah tak seromantis dulu lagi
saat daun-daun berguguran, angin menutup mata
dan lambaikan tangan-nya
di bibir kita terkoyak senyuman, ketika dalam
dekapan kekasih
tapi apa yang terjadi kini, nyanyian alam jadi
tembang kematian!
siapa yang menangis?
siapa yang terluka?
siapa yang kehilangan?
alam saudara tua yang terluka
yang tak bisa lagi menahan amarah, karena selalu
terjarah!
daun-daun tak lagi sempat
untuk sekedar mengucap salam;
pada ranting-ranting patah
pada dahan-dahan rengkah
pohon-pohon dipaksa mati muda
hutan dirampas keperawanan-nya
apa ada yang dengar rintih-nya!
kini, nyanyian alam rintihan siapa?
Jogja, Des’2006.
Kumbang Kelana
aku kumbang kelana
aku datang dan pergi sesukaku
kuhinggapi bunga yang sedang mekar
tanpa rintangan
aku kumbang jalang
perenggut madu setaman bunga nan telanjang
dan akupun terbang
betapa hinanya aku
setaman bunga telah kubuat layu
lunglai tak bermadu
dan setaman bunga masih saja menunggu tanpa cemburu
aku kumbang kelana
hasrat yang membara mengepakkan sayapku
untuk terbang
berkelana mencari setangkai bunga
yang hilang
Jogja, 2004.
aku datang dan pergi sesukaku
kuhinggapi bunga yang sedang mekar
tanpa rintangan
aku kumbang jalang
perenggut madu setaman bunga nan telanjang
dan akupun terbang
betapa hinanya aku
setaman bunga telah kubuat layu
lunglai tak bermadu
dan setaman bunga masih saja menunggu tanpa cemburu
aku kumbang kelana
hasrat yang membara mengepakkan sayapku
untuk terbang
berkelana mencari setangkai bunga
yang hilang
Jogja, 2004.
Sabtu, 02 Februari 2008
Seorang Bidadari
tak ada cahaya lilin
ruang terasa gelap
aku ingin seberkas sinar menyusup digelap itu
atau seorang bidadari sepertimu
siang dan malam jadikan kita berjarak
tapi lubuk hatiku yang baku merinduimu
walau malam ini tak ada cahaya lilin
walau ruang mendekap gelap
doamu adalah harapan
; Ibu
Rengat, 01 Februari 2008.
ruang terasa gelap
aku ingin seberkas sinar menyusup digelap itu
atau seorang bidadari sepertimu
siang dan malam jadikan kita berjarak
tapi lubuk hatiku yang baku merinduimu
walau malam ini tak ada cahaya lilin
walau ruang mendekap gelap
doamu adalah harapan
; Ibu
Rengat, 01 Februari 2008.
Langganan:
Postingan (Atom)