"Jangan pernah menyiksa diri
dengan sesuatu yang belum tentu jadi milik kita.
Jika semua mimpi harus kembali dibangun dari awal,
mulailah dari sekarang!"
Jumat, 06 Februari 2009
Karang
kerajaan itu adalah karang yang sendiri
seperti juga menahan garangnya ombak, Ia pun sendiri
dirinduinya diri-mu, Ikan kecil yang menjaga terumbu dihatinya
kerajaan itu adalah karang yang sendiri
yang di dera badai berkali-kali!
Rengat, Februari 2009.
seperti juga menahan garangnya ombak, Ia pun sendiri
dirinduinya diri-mu, Ikan kecil yang menjaga terumbu dihatinya
kerajaan itu adalah karang yang sendiri
yang di dera badai berkali-kali!
Rengat, Februari 2009.
26 Tahun
:Ibu
sudah kujalani, Tuhan.
dari negeri darah rahim Ibu,
yang ku-sobek dua puluh enam tahun lalu.
Rahim yang melahirkan harapan terakhir!
Ibu yang mengayun ayun buayan rotan,
merapihkan sehelai benang pun diselimut malamku,
sambil melukis doa pada setiap hela nafanya.
ah, Ibu.
Dua puluh enam tahun sudah kujalani hidup,
dari negeri darah rahim-Mu.
Rahim yang akhirnya menelan bulat bulat segala duri,
dan lukanya hati!
Rengat, 01022009.
sudah kujalani, Tuhan.
dari negeri darah rahim Ibu,
yang ku-sobek dua puluh enam tahun lalu.
Rahim yang melahirkan harapan terakhir!
Ibu yang mengayun ayun buayan rotan,
merapihkan sehelai benang pun diselimut malamku,
sambil melukis doa pada setiap hela nafanya.
ah, Ibu.
Dua puluh enam tahun sudah kujalani hidup,
dari negeri darah rahim-Mu.
Rahim yang akhirnya menelan bulat bulat segala duri,
dan lukanya hati!
Rengat, 01022009.
Selasa, 20 Januari 2009
Puisi-ku
Aku tak kan mati
hanya dengan mendatangi Bapak dan Ibu-mu
Aku, tak kan mati
hanya dengan mendatangi Bapak
dan Ibu-mu!
bukankah sudah kupikirkan diri-mu
hingga saat tersulit sekalipun
saat puisiku menemui jalan buntu
dan kata tak lagi mampu memberi arti!
aaa a aaa
Rengat, 01/01 2009.
hanya dengan mendatangi Bapak dan Ibu-mu
Aku, tak kan mati
hanya dengan mendatangi Bapak
dan Ibu-mu!
bukankah sudah kupikirkan diri-mu
hingga saat tersulit sekalipun
saat puisiku menemui jalan buntu
dan kata tak lagi mampu memberi arti!
aaa a aaa
Rengat, 01/01 2009.
Minggu, 30 November 2008
(tak ada judul)
aku kembali belajar menanam luka,
menyemai rindu pada tanah tak bertuan.
Rengat, November 2008.
menyemai rindu pada tanah tak bertuan.
Rengat, November 2008.
Rabu, 17 September 2008
Sentimentalia Rindu
kali ini malam menyuguhkah dikepalaku rock'n roll
atau keroncong diramu sedikit koplo dan campur sari
tak kalah ketinggalan, juga sebuah blues yang nakal
ikut menggelitik nada nada di otak-ku
ah, mungkinkah sentimentalia rindu lagi menggoda
atau dirimu jua yang ingin kujumpa!
Rengat, September 2008.
atau keroncong diramu sedikit koplo dan campur sari
tak kalah ketinggalan, juga sebuah blues yang nakal
ikut menggelitik nada nada di otak-ku
ah, mungkinkah sentimentalia rindu lagi menggoda
atau dirimu jua yang ingin kujumpa!
Rengat, September 2008.
Kamis, 11 September 2008
My Hello, Muncak!
adalah Nuh yang berlayar
dalam bahtera kata
lalu membuka kebun anggur
lalu membakar seekor kelinci untuk kesunyian ini
sebab di padang rumput ini segala yang hidup
akan berubah warna
meski laut adalah keberadaan ini
adalah kata yang membuat segalanya ada
sebatang pohon dan segelas kopi diujung jalan
serta langkahmu yang tertinggal di mulut gang
dalam kemabokan dan kebiruan
meninggalkan irisan daging dan tulang
sebab di lautan ini segala yang hidup
tenggelam dan mengambang di antara mata kail
di antara mata ikan. tiang layar yang gemetar
sebuah pulau kelu di lidahmu
begitu hijau ditumbuhi kehampaan
yang sesak wangi parfum perempuan
yang menggumpal bersama asap rokokku
dan tubuh perempuanku yang tertidur lelap
bersama bulan yang tumbuh di perutnya
seperti Nuh engkau berlayar
lalu membuka ladang kegelisahan
lalu membakar puisi untuk kesunyian ini!
2008.
(ditulis oleh seorang kawan)
dalam bahtera kata
lalu membuka kebun anggur
lalu membakar seekor kelinci untuk kesunyian ini
sebab di padang rumput ini segala yang hidup
akan berubah warna
meski laut adalah keberadaan ini
adalah kata yang membuat segalanya ada
sebatang pohon dan segelas kopi diujung jalan
serta langkahmu yang tertinggal di mulut gang
dalam kemabokan dan kebiruan
meninggalkan irisan daging dan tulang
sebab di lautan ini segala yang hidup
tenggelam dan mengambang di antara mata kail
di antara mata ikan. tiang layar yang gemetar
sebuah pulau kelu di lidahmu
begitu hijau ditumbuhi kehampaan
yang sesak wangi parfum perempuan
yang menggumpal bersama asap rokokku
dan tubuh perempuanku yang tertidur lelap
bersama bulan yang tumbuh di perutnya
seperti Nuh engkau berlayar
lalu membuka ladang kegelisahan
lalu membakar puisi untuk kesunyian ini!
2008.
(ditulis oleh seorang kawan)
Langganan:
Postingan (Atom)