Ini sajak yang terlambat, Dek.
Untuk memintal kembali rindu-mu yang ning.
Sajak yang menari di riuhnya malam.
Sejauh apa kau sanggup berlari,
jika gelap dan terang tak pernah mampu kau bedakan?
Berhentilah jika kau lelah.
Maka dalam kepenatan-mu itu, aku menjadi cahaya.
Dan menuntun-mu pada jalan sajak.
Jalan dan sebuah persimpangan,
tempat mengistirahkan sesaat tubuh letih-mu.
Rengat, 28042009.
Sabtu, 02 Mei 2009
Senin, 23 Maret 2009
Tak Juga Jera
Huruf huruf kembali berguguran.
Seperti kematian yang tak dikehendaki.
i A
i A
i A
i
Andai saja dia kembali,
ku ingin dia terlahir sebagai sajak. atau,
gelombang cinta yang tumbuh dihalaman rumahku.
Lalu gerimis bermuara disetiap helai kelopak matanya.
Membentuk lagi kata kata yang pernah luruh.
Melahirkan kembali puisi yang lebih tajam dari bibirnya.
Sebuah grafiti tentang 139 hari yang telah berlalu
O, mencincang rindu seperti tak kan habis.
Hujan yang tak kunjung reda memahat luka lewat gemericik.
entah sudah liang keberapa ditikamnya.
Tapi aku tak juga jera.
Indragiri, 23032009.
Seperti kematian yang tak dikehendaki.
i A
i A
i A
i
Andai saja dia kembali,
ku ingin dia terlahir sebagai sajak. atau,
gelombang cinta yang tumbuh dihalaman rumahku.
Lalu gerimis bermuara disetiap helai kelopak matanya.
Membentuk lagi kata kata yang pernah luruh.
Melahirkan kembali puisi yang lebih tajam dari bibirnya.
Sebuah grafiti tentang 139 hari yang telah berlalu
O, mencincang rindu seperti tak kan habis.
Hujan yang tak kunjung reda memahat luka lewat gemericik.
entah sudah liang keberapa ditikamnya.
Tapi aku tak juga jera.
Indragiri, 23032009.
Selasa, 17 Maret 2009
Memoar Tasia Ratu
Lagi lagi kita saling membaca diri.
Saling memperdebatkan rindu dalam bahasa yang rancu.
Bercak hitam itu.
Tahi lalat-mu.
2009.
Saling memperdebatkan rindu dalam bahasa yang rancu.
Bercak hitam itu.
Tahi lalat-mu.
2009.
Memoar 27 Desember 2008
Luka itu mulai menggumpal.
Sebuah grafiti dari goresan coretan rasa.
“Kau masih teka teki, tak ku tahu sedalam itu luka-mu,”
Katamu dan tertusuk lagi liang luka.
“Ah, itu bukan apa apa,” kata-ku sambil
mengulum bulat bulat deritaku.
Sepanjang jalan di Tarvel itu.
Kau menangis, aku meringis.
Kita saling menggenggam rindu.
Saling tertikam pilu.
Rengat, 17032009.
Sebuah grafiti dari goresan coretan rasa.
“Kau masih teka teki, tak ku tahu sedalam itu luka-mu,”
Katamu dan tertusuk lagi liang luka.
“Ah, itu bukan apa apa,” kata-ku sambil
mengulum bulat bulat deritaku.
Sepanjang jalan di Tarvel itu.
Kau menangis, aku meringis.
Kita saling menggenggam rindu.
Saling tertikam pilu.
Rengat, 17032009.
Memoar Kedatanganmu
:Butut
Di tepi sungai, bersamamu dan secangkir kopi.
Gelasnya mulai pahit kurasa.
Tapi kedatangan-mu senja itu.
Duduk berdampingan di Indragiri.
Memandang bulan merah yang malu malu di kejauhan.
Telah hanyutkan segala luka.
Rengat, 17032009.
Di tepi sungai, bersamamu dan secangkir kopi.
Gelasnya mulai pahit kurasa.
Tapi kedatangan-mu senja itu.
Duduk berdampingan di Indragiri.
Memandang bulan merah yang malu malu di kejauhan.
Telah hanyutkan segala luka.
Rengat, 17032009.
Senin, 16 Maret 2009
Asin Air Mata
Asin air mata-nya masih terasa.
dalam rindu-nya masih kubaca.
di jendela mana lagi akan kujumpa.
Rengat, 16032009.
dalam rindu-nya masih kubaca.
di jendela mana lagi akan kujumpa.
Rengat, 16032009.
Travel
Semuanya kuserahkan pada perjalanan.
Segala pertemuan, perpisahan.
Tapi di travel itu, dari kacanya yang buram
masih kulihat tajamnya mata-hatimu.
Rengat, 15032009.
Segala pertemuan, perpisahan.
Tapi di travel itu, dari kacanya yang buram
masih kulihat tajamnya mata-hatimu.
Rengat, 15032009.
Langganan:
Postingan (Atom)